Tergantung Antara Hujan dan Panas

Detik ini, laksana air yang mengucur tinggi dari pusarannya di langit, menghantam daun bambu, daun lemas lunglai hendak terpenggal tak jadi, hendak hidup tak ada asa. Bimbang kacau. Sesekali daun lainnya berteriak keras melalui hembusan angin ribut meributkan kalut, teriakan yang semakin membuat gusar gulana mengelana di hamparan padang pasir gersang.

Dalam ketergantungan, rasanya air hujan menderu bak air keras, sakit bukan kepalang. Rasanya, terik matahari menyengat melunturkan keringat dingin bekas air hujan. Rasanya, cahaya bulan purnama memeras seluruh isi luh hingga isakan tak mampu diperdengarkan.

Diam, hanya diam. Ingat sebuah kaedah, fi da’watil mahbubi khothrotun-artinya pengakuan cinta seseorang berarti telah menunjukkan kekhawatiran akan kemurnian cintanya.

0 Response to "Tergantung Antara Hujan dan Panas"

Posting Komentar