Kiai Abdullah Faqih

Silaturahmi Tiga Waktu

Seperti sebuah episode, perjumpaan dengan Kiai Abdullah Faqih melintas tiga waktu. Sejak awak Media Ummat  menjalin komunikasi dengan pegiat Kakilangit, media yang diterbitkan Pesantren Langitan,  Kangmas Alfan Syafi’i (Pimpinan Umum MU) minta izin untuk anjangsana ke Pesantren, di dekat pantai utara kota Tuban itu. Keinginan sowan  untuk bertemu beliau, pengasuh utama salah satu pondok pesantren tua di pulau Jawa itupun, akhirnya terlaksana.

Dan perjumpaan pertama, awal 2010, menapaktilasi, figur Kiai khos itu teramatlah sederhana. Kalimat pertama yang keluar ketika beliau menerima kunjungan kami dan menyimak bundel Media Ummat yang  kami hadiahkan kepada beliau, “Ini majalah wong ahlussunnah wal jamaah, nggih, seraya kemudian ia mengucap Alhamdulillah, secara tersirat mensyukuri cara berdakwah dengan wahana jurnalistik. Ketika seperti kebiasaan kami, meminta izin dulu untuk memuat figur beliau pada media ini, dengan halus Kiai Faqih menolak. “Jangan saya, masih banyak tokoh lain yang lebih layak untuk ditampilkan” imbuhnya menambahi keberatannya. “Mungkin nasehat-nasehat saya ndak apa-apa bila dimuat agar bisa bermanfaat bagi pembaca, “ tegasnya
Untuk itulah, kenapa timbul rasa sungkan kami untuk mengulas keberadaannya. Padahal sudah kami fahami bahwa Kiai sepuh ini teramat dikenal secara nasional. Dia seorang juru damai setiap ada ganjalan antar tokoh dalam organisasi para ulama. Alkisah, hubungan Gus Dur dengan Kiai Yusuf Hasyim pamannya, pengasuh pesantren Tebuireng, sudah lama retak. Banyak hal yang menyiasati perbedaan pendapat di antara mereka. Pola pikir heroik keislaman yang tradisional yang diugemi Pak Ud (panggilan Kiai Yusuf Hasyim) sering dibantah Gus Dur yang moderat. Akan tetapi, kultur santri tetaplah mengajarkan seorang keponakan sepatutnya tetap menaruh hormat pada pamannya, meski beda pendapat. Tetapi siapa yang mampu menasehati tokoh sehebat Kiai Abdurahman Wahid ? . Kiai Faqihlah yang menyatukan kembali kerukunan mereka.
Dan teramat penting, ketika Gus Dur beranjak menjadi Presiden, jauh sebelum itu para ulama besar berembug, dengan sebuah pertanyaan, ”Sebegitu pentingkah, kaum santri menjadi pimpinan negeri ini ?”, Jawabannya kemudian, Kiai Abdullah Faqih menyebutnya sebuah perjuangan yang tak ada bedanya ketika NU didirikan, komite Hijaz yang seolah negara berhubungan diplomatik dengan negara lain”. Pun, ketika kemudian begitu banyak friksi, saling beda antar tokoh,  Kiai Hasyim Muzadi, Mahfud MD, Alwi Shihab, juga KH Abdurrahman Wahid, segala beda itu selalu reda jika sudah bertemu bersama di kediaman beliau. Ada foto indah para tokoh-tokoh itu bergandengan tangan sambil bersila bersama Kiai khos sang pendamai ini.
Perjumpaan kedua, sebelum ramadhan, agustus 2010, sungguh kenangan tak terperikan. Kru Media Ummat beserta rombongan, berziarah ke wali lima. Kami berangkat malam hari, Ustad Misbah, memandu doa dalam perjalanan. Kami merapal surah yasin dan tahlil, di makam Sunan Ampel, Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri dan Sunan Drajat. Untuk esoknya, sebelum menuju pesarean Sunan Bonang, kami diterima bertamu di kediaman Kiai Haji Abdullah Faqih.
Dan pagi itu, sekira pukul 07.15, rombongan kami diterima di ruang tamu pesantren Langitan. Sebagian numpang bersuci dan mandi pagi. Karena ruang dekat lapangan bola para santri teramat ramah bagi tamu yang datang. Berikutnya rombongan membagi dua. Para tamu putri dipandu menuju dalem utama untuk bertemu dengan Bu Nyai Hunainah Faqih. Sejenak sekitar, satu jam kemudian, rombongan diantar duduk bersila di selasar bangunan depan pondok dengan alas permadani paduan corak hijau dan putih. Sesosok orang muda berpiyama putih, bersarung, menyambut kami. Berikutnya kami tahu, ia adalah Gus Abdullah Habib Faqih, salah satu putra beliau. Dengan bertutur ia menyampaikan kondisi Kiai Faqih kurang enak badan karena jadwal hari kemarin yang padat. Tetapi, ia berharap doa para tamu, semoga Abahnya berkenan menemui.
Tak berapa lama kemudian, sebelum perbincangan usai, Kiai Faqih sudah hadir di dekat kami. Beliau duduk di atas kursi roda, meski lelah, senyumnya menyejukkan hati kami. Seperti ungkapan Kiai Mustofa Bisri, wajah beliau selalu manis di depan siapapun. Bergantian anggota rombongan putra bersalaman. Berikutnya Kiai Faqih, turun duduk bersila, sepadan dengan kami. Tausiyahnya kemudian berpesan “Jagalah shalat lima waktu. Tegakkan Islam Ahlussunnah wal jamaah bukan seperti mereka yang mengaku-ngaku Ahlussunnah tapi tidak menyiratkan akhlak Rasulullah SAW”. Usai berpetuah, Kiai mengajak kami berdoa bersama. Semua terasa dekat, meski kami tamu biasa, ia menerima kami dalam suasana luar biasa.
Perjumpaan ketiga, malam 13 Maret 2012, seolah bukan perjumpaan. Karena kami tak lagi berjumpa secara fisik. Rombongan kami meluncur ke Haul Solo, setelah sebelumnya 1 Maret 2012 lalu di antara kami, hanya seorang Mas Badrus, sekretaris redaksi yang bertakziyah ke Tuban. Sebagian besar dari kami turut shalat ghaib ba’da shalat Jumat di masjid dekat rumah. Ditemani rintik gerimis, kami turun dekat pemakaman umum, Widang, tempat beliau disemayamkan. Onggokan tanah itu masih basah. Dua tangkai bunga sedap malam ada di ujung nisan bertuliskan nama KH. Abdullah Faqih dalam khat Arab. Pohon randu besar yang menaungi sekeliling makam, jadi payung alam, hujan hanya menepis tipis. Rombongan kami berdoa, Ustad Rozi melafalkan bait tahlil yang menggetarkan perpisahan dengan ulama penuh keteduhan ini. Para santri pondok Langitan, bergiliran datang, mendoa seperti kami. Bahkan hingga wafatnya Kiai Abdullah Faqih, tetap ingin dekat bersilaturahmi, membumi dengan umat. Ia dikuburkan di pemakaman umum seperti orang kebanyakan. Hati umat terasa yatim ditinggal beliau berpulang.
Syaikhina begitu berkharisma
Syaikhina begitu berkharisma
Bunga Rampai Kehidupan KH. Abdullah Faqih
Masa kecil Syaikhina lahir dari pasangan bahagia kyai Rofi’i dan nyai Khodijah> bersaudarakan yiga yaitu Abdullah Faqih, Khozin , dan Hamim. Nmaun semenjak kecil kepengasuhan berada dibawah pamannya KH abdul Hadi Zahid Pengasuh PP. Lnagitan Generasui Keempat. Ini terjadi lantaran ayahanda beliau, kyai Rofi’i (adik KH. Abdul Hadi_ wafat saat kyai kelahiran Widang Tuban 2 Mei 1932 ini berusia tujuh tahun. Semenjak itulah KH Abdul Hadi yang mengarahkan kehidupan, mulai mondok hingga berkeluarga
Mondok Hanya 4 tahun
Abdullah Faqih muda sangat senang bergelut dengan kitab-kitab keagamaan. Setelah belajar pada ayahandanya, beliau mulai keluar rumah untuk pergi mencari ilmu. Pindah dari satu tempat ke tempat lain guna mencari ilmu dan kalam hikmah. Jika kita lihat kealiman beliau dalam membaca kitab dan memberikan fatwa, mungkin kita akan berfikir bahwa beliau mondok dalam waktu yang lama. Ternyata itu tidak tepat, beliau hanya mondok selama 4 tahun. Dalam sebuah kesempatan beliau pernah bercerita, ” Di lasem mondok dua setengah tahun, di Senori enam bulan, setelah itu satu bulan pindah ke pesantren lain, Total semuanya tidak lebih dari empat tahun.
Meski hanya 4 tahun, namun konsentrasi dan usahanya dalam memperoleh imu sangat luar biasa. Tidak hanya sebatas pada usaha panca indera dengan membaca dan mengamati pelajaran, namun beliau juga menggunakan dasar batin. Selama mondok selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah
Dengan segala kekurangan dan keprihatinan beliau menjalani masa-masa sulit di medan ilmu. Beliau pernah bercerita dalam sebuah pengajian, “  semasa belajar di Lasem kebanyakan bekal teman-teman saat itu bisa dapat 24-40 kg beras. Tapi bekal saya hanya 6 Kg beras.”.
Beliau juga sempat dawuh , ” Saya tidak pernah meminta tambahan kiriman, saya niati tirakat meski awalnya terpaksa, makan ketela saja pernah. Sementara yang paling sering sehari makan nasi ketan satu lepek dan kopi satu cangkir. Bahkan pernah sewaktu bulan romadhon tidak ada yang bisa dibuat sahur dan buka, akhirnya cuma minum sebanyak-banyaknya
Para guru Yang Utama
Selama empat tahun, syakhina muda telah mengambil ilmu dari para guru yang utama. Mereka pakar ilmu keislaman dan selalu istiqomah menjalankannya. Selama di Lasem beliau belajar kepada beberapa kyai diantaranya : KH. Baidhowi, KH Ma’shum, KH fathurohman, KH, Maftuhin, KH Manshur dan KH Masdhuqi. Sementara di Bangilan beliau belajar kepada para kyai diantaranya adalah KH. Fadhal. Kemudian beliau melanjutkan pengembaraan dengan bertabarukan ke pondok-pondok lain diantaranya di pesantren Watu Congol asuhan KH Dalhar
Di pinang Kyai Ma’sum
Selama mondok di Lasem, KH Ma’sum memiliki perhatian lebih kepada Abdullah Faqih muda. Puncaknya beliau edipinang menjadi meannatu mendapat Nyai Hunainah , putri persusuan, sekaligus kemenakan KH Ma’sum. Mendapat lamaran sang kyai, Abdullah Faqih muda tidak langsung sedia.  Beliau masih ragu menerima pinangan itu. Bahkan di tengah-tengah suasana seperti ini sempat pulang ke Langitan. Sesampai di rumah beliau malah mendapat dawuh dari KH abdul Hadi, ” ojo milih-milih tebu, manuto opo sing didawuhno kyaimu ( Jangan pilih-pilih, ikutilah petunjuk kyaimu) mendengar wejangan sang ayah, baru syaikhina muda merasa mantab dan menerima pinangan.
Pada awal-awal pernikahan, kehidupan masih berat. Maklum beliau menikah masih berstatus santri dan tentu belum memilki persediaan nafkah keluarga. Namun kondisi ini dijalani dengan tabah dan sabar. Baru setelah punya beberapa anak kondisinya baru mulai tertata.
Rumahnya terbuka untuk siapa saja
Setiap hari kediaman syaikhina tidak pernah sepi dari kunjungan tamu. Diruang tamu sederhana itu terdapat sofa dan meja kaca yang sederhana pula, terdapat suguhan makanan kecil didalam toples kaca. Biasanya setelah para tamu dipersilahkan duduk, salah satu khadam beluiiau akan datang membawa nampan berisi teh yang diseduh dalam  cangkir. Di sofa itu dan dengan hidangan itu pula beliau menerima para tamu, siapapun orangnya
Ketika orang datang bertamu, dengan membawa berbagai maksud dan tujuan. Mereka datang karena rindu pada kehangatan senyum beliau, pada keteduhan yang terpancar dari wajah beliau. Mereka datang karena haus akan nasehat-nasehat yang beliau sampaikan, pada kebijaksanaan yang terselip disana-sini, atau karena persoalan pelik yang tak sanggup mereka selesaikan sendiri
Telah diakui oleh banyak orang bahwa syaikhina selalu memberikan jawaban atau solusi dari setiap tamunya yang masuk. Jawaban-jawaban itulah nerupakan tanda bahwa beliau memilki mata hati (bashiroh yang jarang dimiliki jamak manusia. Beliau menyampaikannya dengan gaya tutur yang santun dan mengedepankan bahasa budi

Bumipun berduka

Senin, tanggal 27 februari 2012 syaikhina sangat rindu dengan Abuya sayyid Muhammad al maliki al Hasani.Bahkan beliau meminta kepada para putranya untuk memasang foto al Alim al ‘Alamah al Muhahadits itu disandingkan di dekat beliau. Selasa, 28 februari 2012 seolah telah menerima pesan dari langit akan tiba waktunya menghadap. Syikhina berkunjung ke rumah putra-putranya dan mengumpulkan sanak kerabat dengan memberi hadiah yang tidak kecil kepada semua  putra, cucu dan abdi ndalem
Sehari kemudian, rabu, 29 Februari 2012 usai shalat maghrib, malikat izroil pun datang menjemput. Keluarga tidak menyangka akan secepat itu, karena sehari sebelumnya beliau megutarakan telah benar-benar sehat dan ingin segera berziarah kepasda Rasulullah Muhammad SAW.Bumi berduka karena kepergian ulama penuh kharisma, meninggalkan jutaan ummat. Kabar langsung tersebar melalui pesan antar mulut, sms, hiingga pada dunia maya.Beliau dimakamkan pada pukul 12.30 WIB di hari kamis, 1 maret 2012 diantara pusara para pendahulu pengasuh Pesantren langitan, diiringi puluhan ribu pentakziyah yang mengantarkan jenazahnya ke peristirahatan terakhir.
(bYQ, M. Hasyim, M Sholeh, A. Athoilah)

Artikel ini merupakan sharing dari  http://mediaummat.co.id/silaturahmi-tiga-waktu/

0 Response to "Kiai Abdullah Faqih"

Posting Komentar