Curhat: Silau keelokan

hem, detik ini lewat kebisuan tulisan ini mencoba merogoh lebih dalam, melebihi kedalaman suara. lewat tanda-tanda huruf yang merangkai indah menjadi suara tanpa nada. tulisan ini tidak ada setitikpun melenggang menjelma suara yang membisik merdu di dasar telinga. tulisan ini hanya membisik pelan jauh di dasar sanubari mencoba mengikat rasa yang terlalu lama hanya menjadi manis pahitnya lidah.
sore ini, tulisan ini berjalan menapaki jalur yang terlalu silau di depan, mata tak lagi berguna untuk melihat depan, tinggala rabaan kaki terseok-seok batu kerikil tersampar tersandung. entah jalan ini benar atau salah mata tidak bisa menjawabnya, apalagi kaki yang telah panjang berjalan meski tanpa alas kaki.
bercampur rasa takut dan khawatir berlebam penasaran, mata berusaha dibuka, dibuka, dibelalakkan, masih nampak terlalu silau. air mata kesakitan bercucur membuat sekelopak mata berkilauan bak intan surgawi. tak peduli, mata terus dibelalakkan, muncullah dari depan benda besar berputar nan anggun menawan. sejenak silau bergumam mengagumi keindahannya, sejenak air mata terhenti menyaksikan keeolokan tiada tara.

0 Response to "Curhat: Silau keelokan"

Posting Komentar