" Mari Sejukkan Indonesia dengan Membaca Sholawat Nabi"
Home » » Curhat: Rindu pada yang tercinta

Curhat: Rindu pada yang tercinta

Posted by MASTER SENI on Jumat, 06 Januari 2012

langit masih nampak suram, angin tak jua berhembus untuk membawa surat rinduku padanya, burung-burung terdiam, hanya kamar beralaskan kayu tua menyaksikan ku duduk termenung memandangi sejuta pohon tak tentu jenisnya. Dari kejauhan pucuk-pucuk pohon bergoyang, terenyak ku berdiri, angin telah datang. Cukup lama ku berdiri, ternyata hanya tupai yang sedang mengerjaiku, mereka tertawa lepas melihatku tertipu. Dasar tupai.
kasih sayang ibu, src: anekaremaja.blogspot.com
Ku kembali duduk termenung, perutku berdendang sebagai tanda minta sesuap kekenyangan, ku elus pelan kepadanya sambil ku berucap,” sabarlah perut, sebentar lagi angin datang, surat ini akan ku kirim, baru setelah itu nasi dan lauk yang telah ku masak akan enak rasanya”. Perutku dengan sabar menemaniku, terasa sekali bahwa perutku telah menangis kelaparan, tapi biarlah ku akan tetap menunggu angin datang.

Ku tetap duduk termenung dengan mata yang tak henti memandang arah datangnya angin, hingga tibalah waktunya mata ini mengeluh. Dia kehabisan air mata, kelopak matanya telah menonjol hitam, irisnya berubah menjadi merah padam. Ku bilang pada mataku, “ wahai mataku yang setia, bersabarlah, nanti air matamu akan ku isi kembali dengan sekantong air mata baru, hingga nantinya kau bisa kembali menemaniku untuk membersihkan pipiku dengan air matamu”. Mata melalui kerdipannya yang sayu mengisyaratkan “iya”.

Cukuplah ku menunggu angin datang, sedang yang di sana menunggu surat ini datang. Sudahlah akhirnya ku berkata kepada perut dan mataku, kawan....ku tidak kuat lagi menunggu, maafkan aku telah membuatmu menderita. Ku putuskan biarlah surat ini ku bacakan untuk dia di sini, semoga suaraku bisa didengar olehnya meski dia jauh di sana.

Ibu,,,,,,
Telah lama ibu meninggalkanku sendirian di sini,
Tidak ada yang membuatkanku susu seperti dul u lagi,
Tidak ada yang ku cium tangannya dengan luluran air mata lagi,
Tidak ada lagi senyum ketulusan yang mengukir indah di hati, kala ku pergi.....
Tidak ada lagi tempat bagiku untuk bercerita meski hanya tentang hati....
Ku berharap nanti kita masih bisa bertemu lagi,,,,
Dalam ruang yang lebih indah dari dunia ini,.,.,
Ingin rasanya mencium tanganmu lagi.....


Thanks for reading & sharing MASTER SENI

Previous
« Prev Post

0 blogger-facebook:

Posting Komentar