Curhat: Keluh Kesah berlebam derita selamanya


kawan pada kesempatan kali ini, saya sedikit mengabarkan pada kalian, bahwa langit nampak mendung seperti biasanya. mendung tapi berarti hujan, mati pun tak berarti kehilangan, hidup pun tak berarti makan, dan menikahpun tak berarti saling cinta.semua hanya bermain tanda, bermain indikasi, bermain persepsi. lelah rasanya selalu bergelut dengan persepsi, apalagi indikasi yang tidak selalu berujung pasti.




ada sebuah kisah, dari kawan dekat yang menceritakan, bila orang jatuh cinta dunia itu terbaik arah putarannya, matahari itu tidak sepanas biasanya, kopi pahit serasa madu, tidur terasa seakan bangun dalam mimpi bertemu, dan masih banyak lagi bualan-bualan gombal yang sifatnya maya.............


kegombalan itu semakin menjadi tatkala, cinta itu telah bertepuk dua belah tangan. kata-katanya menjadi semakin menggila, bahkan sangat menggila," ku rela menjadi kumbang, asal kau jadi bunganya, kan ku panjat rembulan untuk sedikit membagi indahnya denganmu, rela ku berjalan ribuan kilo hanya untuk bertemu denganmu. sungguh gila-segila gilanya orang gila.


kegilaan ini sifatnya hanya semu, alias tidak lama. rata-rata bertahan 1 paling lama, tahun ke-2 sudah mulai biasa, tahun 3 bisa jadi malah sudah bosan.


saya tidak ingin mengulas rasa yang sudah bosan, tapi kali ini saya hendak mengupas sedikit tentang momentum gila.


pada saat orang itu gila(cinta.red) maka tidak ada yang paling nomor 1 kecuali yang dicintainya. bila ini telah dirasakan dengan betul, tidak bisa dielak lagi dunia ini dipastikan hanya milik mereka berdua.tingkatan ini akan menguras semua isi otak dan emosi, setiap akan belajar, otak mengingatkan senyumannya. ketika akan makan, emosi mengukirkan kenangan dulu kala makan bersama. tatkala hendak tidur, di langit-langit kamar nampak jelas dia bersenandung kerinduan. tak ejengkalpun waktu yang luput dari dia.hingga mimpi pun masih saja mengukir kisah baru dengan dia.


itu adalah hal yang indah, bahkan terlalu indah antara kau dan dia.


namun bila tidak bersua, tidak bertepuk dua tangan. sebaliknya.....langitpun nampaknya mau runtuh, gunung-gunung terlihat bergeelegaar hendak memuntahkan isi perutnya, laut juga bergejolak menghantam karang dengan kekuatan maksimum, tak hanya mereka, angin tak mau kalah, dia tiupkan kemarahan di setiap pohon, rumah, dan apapun yang ada di depannya, 


hingga luluh lantah. teriakan kilat dan guntur mewarnai setiap jengkal kemarahan dipadu kekecewaan yang disedu bersama air bah yang meluap menyapu semua rumah kayu.


setelah beberapa waktu berlalu bencana telah mereda, matahari menyambut pagi nan legam kesakitan dengan seutas senyuman. meraba diri, menengadahkan kepala lagi beranjak menapaki hari baru dengan sebongkah sakit yang dijejalkan dipojok hati, ditutupi ratusan lapisan air mata, dipungkasi oleh ribuan derita senyuman dan tawa.


langkah kakinya tenang, senyumannya kembali cerah sebagaimana matahari pagi hari ini......senyum itu tetap tak bisa membohongi,,,,,bahwa ada cemberut yang ternistakan....


sekarang dia telah pasrah, berharap simpanan sakit di pojok hati tidak lagi pernah terbuka membasahi seisi hati. setiap bertemu dengan dia,kau masih tetap berbuat baik. senantiasa membantunya kala dibutuhkan, merawatnya kala dia sakit,tetap sabar meski seringkali dimarahi dan dicuekin.


satu hal yang membuatnya bertahan,,,
ku memberi sepenuh hati, entah yang ku terima, ku tak peduli......



Perhatian:
saudaraku......pembaca Blog saya yang budiman, artikel saya yang berlabel CURHAT ini, adalah kisah nyata yang penulis

alami, hanya saja gaya bahasa yang digunakan bertipe naratif dan bermajas Alegori. semua serba berkias dan berambigu.

agar bisa melihat makna sesungguhnya pasti ada keganjalan rasionalitas di sana, nah.....itulah kuncinya..

No comments:

Post a Comment