Seni Rupa: PENINGKATAN KEMAMPUAN BERKARYA SENI GRAFIS CETAK TINGGI TEKNIK HARDBOARDCUT

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERKARYA SENI GRAFIS
CETAK TINGGI TEKNIK HARDBOARDCUT  
MELALUI PENDEKATAN EKSPRESIF-KREATIF
SISWA KELAS VIII A SMP NEGERI 25 MALANG


Fajar Cahyono
Universitas Negeri Malang

ABSTRAK:

            Dalam pelaksanaan pembelajaran seni rupa di sekolah, siswa belum mampu berkarya seni grafis cetak tinggi secara maksimal, hal ini disebabkan pembelajaran seni grafis yang disajikan belum memanfaatkan teknik cetak tinggi dengan pendekatan yang tepat. untuk meningkatkan kemampuan tersebut diupayakan melalui pendekatan Ekspresi-Kreasi yang diharapkan akan mampu membantu dalam berkarya seni grafis teknik Hardboardcut.
Tujuan penelitian peningkatan berkarya seni grafis teknik hardboardcut ini  adalah (1) meningkatkan kemampuan berkarya seni grafis teknik hardboardcut pada tahap pengkonsepan atau perancangan berkarya, dan (2) meningkatkan kemampuan bekarya seni grafis teknik hardboardcut pada tahap berkarya.
            Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan melalui tahapan studi pendahuluan, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tindakan dilakukan secara kolaboratif antara guru dengan peneliti. Sumber data penelitian ini adalah siswa dan guru. Instrumen yang digunakan oleh peneliti berupa pedoman observasi,  catatan lapangan, dan pedoman penilaian. Analisis data dilaksanakan berdasarkan data model alir yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan.
            Peningkatan kemampuan berkarya siswa dalam berkarya seni grafis nampak dari hasil pembelajaran pada siklus I dan siklus II. Pada siklus I hasil pembelajaran berkarya seni grafis masih belum menunjukkan hasil maksimal, pada tahap perancangan berkarya siklus I nilai rata-rata kelas 71,53, sedang pada tahap berkarya siklus I nilai rata-rata kelas 67,74. Berdasarkan hasil refleksi siklus I, dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan pada siklus II, hasilnya terjadi peningkatan nilai rata-rata kelas pada tahap perancangan berkarya siklus II menjadi 83,5% dan tahap berkarya menjadi 81,7%. Secara keseluruhan dari tahap perancangan berkarya, dan saat berkarya terjadi peningkatan 18,79%. Pembuatan sketsa meningkat 25%, dan karakter garis meningkat 19,6%. Pada proses pembelajaran naik 14,29%, keaktifan naik.13,8%, keberanian naik12,22%. sedang dalam hasil karya siswa mengalami peningkatan 19,51%, pengerolan naik21,94%, dan pengepresan naik 22,62%, serta teknik naik 18,71%.
Disarankan kepada guru seni budaya tingkat SMP bila menemui kesulitan dalam mengembangkan kreativitas siswa terutama ketika proses berkarya seni grafis teknik cetak tinggi mapun teknik lainnya, untuk memanfaatkan pendekatan dan metode ekspresi-kreasi.Selain itu, selama proses berkarya disarankan untuk menyiapkan peralatan dan bahan berkarya yang tepat dengan menggunakan teknik berkarya yang sesuai dengan ketentuan atau prosedur berkarya seni grafis


Kata Kunci  : berkarya seni grafis, hardboardcut, ekspresi-kreasi, SMP
PENDAHULUAN

Kurikulum mata pelajaran Seni Budaya memuat aspek konsepsi, apresiasi, dan kreasi yang disusun sebagai suatu kesatuan. Ketiga aspek kegiatan tersebut harus merupakan rangkaian aktivitas seni yang harus dialami siswa dalam aktivitas berapresiasi dan berkreasi seni. Pendidikan seni di sekolah umum pada objeknya diarahkan untuk menumbuhkan sensitivitas dan kreativitas sehingga terbentuk sikap apresiatif, kritis, dan kreatif pada diri siswa secara menyeluruh(Depdiknas,2003:4).
Pembelajaran Seni Rupa yang merupakan mata pelajaran kesenian di Sekolah Menengah Pertama mengacu pada tujuan untuk menumbuhkan sensitivitas dan kreativitas sehingga terbentuk sikap apresiatif, kritis, dan kreatif pada diri siswa secara menyeluruh (Depdiknas, 2003:5). Tujuan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengajaran Seni Rupa dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi seni melalui kegiatan apresiatif, kreatif, dan kritis. Kegiatan tersebut akan memperdalam rasa, cita, dan karsa siswa dalam menikmati sebuah karya. Kemampuan ini hanya mungkin tumbuh jika dilakukan serangkaian kegiatan meliputi pengamatan, analisis, penilaian, serta kreasi dalam setiap aktivitas seni baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Penekanan lebih lanjut dalam pembelajaran Seni Rupa dijabarkan dalam
Standar kompetensi pembelajaran Seni Rupa di Sekolah Menangah Pertama
terdiri atas tiga kompetensi, yakni (1) mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni rupa terapan melalui gambar bentuk obyek tiga dimensi, (2) mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni rupa terapan melalui gambar/ lukis, karya seni grafis cetak tinggi dan kriya tekstil batik daerah Nusantara, (3) Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni rupa murni yang dikembangkan dari beragam unsur seni rupa Nusantara dan mancanegara (Depdiknas, 2003:14).
Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika. Seni rupa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu seni rupa murni atau seni murni, kriya, dan desain. Seni rupa murni mengacu kepada karya-karya yang hanya untuk tujuan pemuasan eksresi pribadi, sementara kriya dan desain lebih menitikberatkan fungsi dan kemudahan produksi. Seni grafis cetak tinggi tergolong dalam seni murni, hal ini atas dasar karya yang ditujukan untuk ekspresi pribadi(http://wikipedia.com/senirupa).
Terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts (http://Wikipedia.com/senirupa)
Seni rupa murni terbagi dalam 4 bagian yaitu seni patung, seni lukis, seni keramik dan seni grafis cetak tinggi. Seni rupa murni lebih mengkhususkan diri pada proses penciptaan karya seninya dilandasi oleh tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan kepuasan batin senimannya.Seni murni diciptakan berdasarkan kreativitas dan ekspresi yang sangat pribadi (lukis, patung, grafis, keramik). Namun dalam hal tertentu, karya seni rupa murni itu dapat pula diperjualbelikan atau memiliki fungsi sebagai benda pajangan dalam sebuah ruang.
Seni grafis cetak tinggi merupakan seni murni dua dimensi dikerjakan dengan teknik cetak baik yang bersifat konvensional maupun melalui penggunaan teknologi . Teknik cetak konvensional antara lain :(1) Cetak Tinggi (Relief Print) : woodcut print, wood engraving print, lino cut print, kolase print, (2) Cetak Dalam  (Intaglio) : dry point, etsa, mizotint,sugartint, (3) Cetak Datar (Planography), dan  (4) Cetak Saring (silk screen ). Teknik Cetak dengan penggunaan  teknologi, misalnya offset dan digital print (http://guruvalah.20m.com)
            Seni grafis cetak tinggi mengacu pada penjelasan di atas tergolong dalam seni murni atau fine art.  Hal ini disebabkan proses serta produk seni grafis cetak tinggi lebih pada pemuasan ekspresi diri bukan untuk tujuan kemudahan produksi atau fungsional lainnya. Seni grafis cetak tinggi sendiri memiliki 4 macam teknik, yaitu (1) Teknik Cetak Tinggi atau Relief Print, di mana tinta berada pada permukaan yang tinggi dari matrix. teknik relief meliputi: cukil kayu, cukil hardboard , engraving kayu, cukil linoleum/linocut, dan cukil logam/metalcut, (2) Teknik Cetak Dalam atau Intaglio, tinta berada  di permukaan matrix yang dalam sebagai penghantar warna, teknik ini meliputi: engraving, etsa, mezzotint, aquatint, dan drypoint, (3) Teknik Cetak Datar atau planografi dimana matrix permukaan bagian dalam sebagai penghantar warna, teknik ini meliputi: litografi, monotype dan teknik digital, dan (4) Teknik Cetak Saring atau stensil, termasuk Cetak Sablon. (http://wikipedia.com/seni_grafis. diakses tanggal 20 Oktober 2010)
Teknik hardboardcut adalah salah satu teknik relief print atau teknik cetak tinggi, sehingga proses berkaryanya identik dengan teknik cetak tinggi yang memiliki permukaan timbul , yang berfungsi sebagai penghantar tinta(baik monokrom atau polikrom) adalah bagian atau permukaan yang tinggi atau timbul tersebut.
Untuk memperoleh wujud acuan yang timbul tersebut dapat dikerjakan dengan cara menghilangkan bagian-bagian(dengan dicukil) yang tidak diperlukan menghantarkan tinta, sehingga tinggal bagian-bagian yang difungsikan sebagai penghantar warna atau tinta.
Salah satu sifat seni grafis cetak tinggi cetak timbul atau cetak tinggi adalah bila acuannya sendiri diamati baik-baik, maka permukaan acuan akan tampak sebagai permukaan yang berukir atau berelief. Karena itu cetak tinggi disebut pula sebagai cetak tinggi atau relief print(Mutarto,1990).
Seni grafis cetak tinggi cetak tinggi memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan teknik seni grafis cetak tinggi yang lainnya diantaranya, (1) seni grafis cetak tinggi cetak tinggi adalah teknik tertua, sehingga menjadi ciri utama seni grafis cetak tinggi, (2) sebagai dasar teknik percetakan yang meliputi pembuatan stempel, cetak emboss, dan mesin tik konvensional, (3) seni grafis cetak tinggi cetak tinggi adalah teknik paling mudah diantara teknik lainnya yang cocok diajarkan pada siswa tingkat SMP, (4) seni grafis cetak tinggi cetak tinggi memiliki beberapa tahap yang saling berkaitan atau continuous step, sehingga memerlukan ketelatenan dan keseriusan berkarya, (5) seni grafis cetak tinggi cetak tinggi menekankan unsur ekspresi dan kreasi disetiap tahap berkaryanya, yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menggambar, mencukil, dan mencetak.
Sebagai salah satu fine art, seni grafis cetak tinggi mengalami pemerosotan peminat, bahkan beberapa seniman seni grafis cetak tinggi lebih menarik untuk pindah ke seni lukis, Patung, dan seni- seni lainnya. Sebagaimana dilansir dalam majalah visual art edisi bulan juni 2010 halaman 27 yang menyatakan bahwa banyak pegrafis yang hijrah ke seni-seni lain yang lebih populer dan digemari saat ini. Mereka dihimbau untuk ”pulang”, agar seni grafis cetak tinggi yang saat ini sekedar pelengkap penyerta seni rupa Indonesia, bisa eksis.”
Dalam observasi yang telah peneliti lakukan pada kelompok guru Seni Budaya dan Ketrampilan (SBK) tingkat SMP di Kabupaten Blitar pada tanggal 2-3 Oktober 2010, ternyata tidak ada satupun guru SBK yang membelajarkan Seni grafis cetak tinggi dalam tataran praktek, semua guru hanya memberikan pengetahuan tentang seni grafis cetak tinggi secara umum kepada peserta didik. Peneliti berlanjut dengan melakukan observasi pada kelompok guru SBK tingkat SMP di Kota Malang, hanya 1 SMP yang menerapkan seni grafis cetak tinggi sebagai mata pelajaran praktek di sekolah. Melihat hasil observasi ini, maka tidak heran jika seni grafis cetak tinggi menjadi seni murni yang tertinggal dibanding dengan cabang seni murni (fine Art) yang lainnya.
Dari hasil obervasi juga diperoleh data bahwa sebagian guru SBK enggan memasukkan materi seni grafis cetak tinggi dalam tataran praktek karena keterbatasan alat dan bahan yang diperlukan.
Perkembangan teknologi telah mempermudah manusia dalam berbagai aspek kehidupan, sedemikian halnya dengan berkarya seni grafis cetak tinggi, tidak dibutuhkan alat dan bahan yang mahal, cukup dengan menggunakan bahan-bahan sintesis karya seni grafis cetak tinggi dapat dibuat seperti hardboard sebagai matrixnya, cuter sebagai alat cukilnya, dan Cat Minyak sebagai tintanya, serta Spon sebagai pengganti Rol. Karena esensi seni grafis cetak tinggi bukan pada medianya tetapi pada tradisi dan prosedurnya(Visual Art,2010: 23).
Oleh karena itu, sebagai langkah awal selain untuk mengembangkan pendidikan seni grafis cetak tinggi sebagaimana tertera dalam standar kompetensi lulusan pembelajaran seni rupa SMP (Depdiknas,2003), pengenalan seni grafis cetak tinggi dalam tataran praktek dengan pendekatan dan teknik yang tepat diharapkan juga mampu meningkatkan eksistensi seni grafis cetak tinggi Indonesia khususnya di kota Malang.
Untuk mencapai tujuan tersebut guru perlu mengembangkan strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan daya sensitivitas dan kreativitas siswa melalui seni grafis cetak tinggi. Salah satunya adalah dengan menggunakan Pendekatan Ekspresi-Kreatif. Pendekatan Ekspresi-Kreatif adalah pendekatan yang mengajak siswa untuk belajar mengungkapkan perasaan dan gejolak emosinya itu dalam bentuk karya yang ekspresif. Siswa juga dirangsang untuk menciptakan karya seni  yang memiliki keanehan dan kebaruan sebagai substansi dari kreativitas. (Harianti,2003)
Pendekatan Ekspresi Bebas menurunkan Metode Ekspresi Bebas ,jadi istilah ”ekspresi bebas” dapat digunakan sebagai Pendekatan atau Paradigma dan juga sebagai Metode (Tarjo, 2004: 134)
            Adapun Metode Ekspresi Bebas identik dengan metode Ekspresi-Kreatif (Jefferson, 1980) atau metode Kerja Cipta. Jenis metode ini merupakan bentuk lain dari metode menggambar bebas yang disarankan oleh A.J. Suharjo. Metode ini merupakan pengembangan dari pendapat Victor Lowenfeld yang menganjurkan agar setiap guru yang bermaksud mengembangkan kreasi siswanya untuk bebas berekspresi. Dengan cara ini guru menjauhkan diri dari campur tangannya terhadap aktivitas yang dilakukan siswanya. Atas dasar tersebut metode ini sering dinamakan Metode Ekspresi-Kreatif atau Pendekatan Ekspresi-Kreatif. (Tarjo,2005:135)
            Pada metode Ekspresi-Kreatif dalam penelitian ini memiliki beberapa keunggulan,(1) lebih mengutamakan ketrampilan proses, (2) Siswa diarahkan dari berimajinasi ke berfikir yang lebih ekspresif atau pemuasan diri, (3) lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa, (4) mampu memberikan motivasi yang lebih optimal dalam mengembangkan kemampuan berkesenian siswa (Tarjo,2005)
Proses berkarya seni grafis cetak tinggi yang memiliki 3 tahap kunci berkarya yang meliputi tahap perancangan desain, tahap berkarya yang meliputi pembuatan matrix, pengerolan, dan pengepresan, dan tahap pencetakan. Masing-masing tahap memiliki kompetensi yang berbeda, tahap pembuatan sketsa merupakan tahap awal yang melandasi proses berkarya selanjutnya, melalui proses pembuatan sketsa siswa menuangkan ide atau gagasannya dalam bentuk visualisasi sketsa (Schinneller,1961:133-138).Dalam praktek pembelajaran di kelas siswa kurang dapat menuangkan idenya secara ekspresif sesuai dengan ide dalam diri siswa, mayoritas siswa memiliki kecenderungan untuk mencontoh gambar yang sudah ada atau meniru temannya, sehingga siswa menjadi lemah dalam berekspresi yang selanjutnya dapat melemahkan daya kreatifitas siswa (Harianti,2003). Penerapan pendekatan ekspresi-kreasi sebagai salah satu pendekatan sekaligus metode untuk mengembangkan kemampuan berekspresi siswa secara lebih original atau asli dari diri siswa, diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berkarya siswa terutama dalam berkarya seni grafis cetak tinggi teknik hardboardcut yang menekankan ekspresi yang lebih dalam setiap tahap berkaryanya.
Tahap pembuatan matrix sebagai bagian dalam tahap berkarya menggunakan teknik cukil memiliki ranah pengembangan motorik, kogntif, dan attitude siswa, yaitu siswa harus mampu mencukil papan hardboard , menerapkan pola reflektif , dan emosi atau sikap yang sabar dalam berkarya.
Tahap berkarya seni grafis cetak tinggi teknik hardboardcut merupakan tahap penentu kepuasan siswa, pada tahap ini siswa ditekankan mampu melakukan pencetakan dengan warna dan media yang telah disediakan melalui teknik pengerolan, dan pengepressan.
            SMP Negeri 25 Malang sebagai tempat penelitian karena beberapa hal diantaranya; (1) SMP Negeri 25 Malang merupakan SMP yang mempunyai kondisi fisik, sarana, maupun guru yang memadai, sehingga memungkinkan untuk dilakukan penelitian (2) Meskipun tergolong SMP yang baru berdiri di Kota Malang SMP Negeri 25 memiliki perhatian yang cukup intens terhadap kesenian, termasuk diantaranya tercatat 2 kali siswa SMP Negeri 25 mengadakan pameran seni diantaranya pameran seni grafis cetak tinggi di Mading Sekolah, dan Pameran karya daur ulang di Kantor kelurahan Merjosari,  (3) Pembelajaran seni grafis cetak tinggi teknik cetak tinggi sebagai salah satu mata pelajaran seni budaya belum menunjukkan wujud ekspresi siswa, selain itu teknik pembuatan karya juga belum menunjukkan teknik yang standar berkarya seni grafis cetak tinggi cetak tinggi, berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan, pembelajaran seni grafis cetak tinggi cetak tinggi dilakukan dengan metode ekspresi bebas, tetapi tidak ada perangsangan dan motivasi yang lebih dari guru kepada siswa untuk membuat karya yang original, selain itu teknik pencetakan seharusnya menggunakan cat cetak tetapi menggunakan cat besi yang memiliki karakter lebih cair dari pada cat cetak, selain itu sistem pengerolan seharusnya menggunakan rol, di sana menggunakan kuas, (4) S arana berkarya seni grafis cetak tinggi cetak tinggi di SMP 25 Malang belum lengkap rol, dan meja pencetakan tidak tersedia. Sehingga muncul beberapa yang hal yang kurang optimal dalam pembelajaran diantaranya (1) ide atau gagasan siswa belum tersalurkan dengan original atau asli dari dalam diri siswa, (2) beberapa karya siswa nampak ada yang seragam, ini menunjukkan adanya unsur mencontoh dalam berkarya, (3) teknik pencetakan yang kurang tepat terutama dalam penggunaan cat besi dapat menyebabkan tinta tidak merata pada hasil cetakan, (4) teknik pengerolan yang tidak menggunakan rol, tetapi menggunakan kuas menyebabkan tinta masuk pada permukaan matrix yang dalam sehingga ketika matrix dicetak, bagian yang dalam ikut tercetak pula.
            Berdasarkan latar belakang tersebut, dengan salah satu upaya meningkatkan kualitas pembelajaran seni budaya khususnya materi seni grafis cetak tinggi teknik cetak tinggi, maka peneliti mencoba memecahkan masalah tersebut dengan pendekatan ekspresi-kreasi. Adapun judul skirpsi yang dipilih adalah” Peningkatan Kemampuan Berkarya Seni grafis Cetak Tinggi Teknik hardboardcut Melalui Pendekatan Ekspresi-Kreatif Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 25 Malang”
our logo design

Artikel Lengkap bisa di unduh di bawah ini

0 Response to "Seni Rupa: PENINGKATAN KEMAMPUAN BERKARYA SENI GRAFIS CETAK TINGGI TEKNIK HARDBOARDCUT"

Posting Komentar