" Mari Sejukkan Indonesia dengan Membaca Sholawat Nabi"
Home » » Politik : Rieke Komentar tentang hari IBu

Politik : Rieke Komentar tentang hari IBu

Posted by MASTER SENI on Rabu, 20 April 2011

Menengok ulasan Rieke dalam seminar tentang kewanitaan di graha kartini malang kemarin tanggal 19 April 2011 hari sebuah momentum untuk menyongsong hari kartini esok hari pada tanggal 21 April. Dalam seminar tersebut sebagaimana dilansir di halaman Radar malang Jawa Pos disebutkan bahwa Rieke berpendapat hari Ibu tanggal 22 Desember seharusnya bukan dinamakan hari ibu tetapi hari kebangkitan politik wanita, yaitu sebagai momentum untuk menyerakan posisi wanita setara dengan pria atau yang lebih keren disebut emansipasi wanita.

Lebih jauh Rieke menyatakan bahwa saat ini emansipasi wanita di Indonesia belum sepenuhnya terlaksana dengan baik, terbukti dengan kuota 30% kursi parlemen yang seharusnya diisi oleh Wanita ternyata tidak kuat hingga 30 %.


Melihat fenomena tersebut jelaslah seoerang Rieke yang notabene sebagai wanita karir yang menekuni dunia politik di bawah naungan PDI-P getol menyuarakan persamaan gender antara wanita dan pria meskipun sudah menjadi rahasia public bahwa kekuatan pria dan wanita tidak dapat disetarakan pada beberapa titik. Seperti halnya kekuatan fisik, wanita tidak sepenuhnya mampu mengimbangi kekuatan fisik pria pada banyak hal, seperti konsistensi power ketika bekerja, stabilitas emosi, dan pola pikir yang menggantung dalam keluarga. Dan masih banyak lagi….

Meskipun ada juga yang getol dan memaksa kesamaan tersebut, tetap akan susah atau tidak mungkin kesetaraan itu akan terjadi. Satu sample saja, tentang sholat, wanita akan libur sholat minimal satu hari dalam satu bulan, dari sini saja wanita memang sudah ditakdirkan untuk tidak disamakan dengan laki-laki.

Sehingga usaha keras Rieke untuk menyurakan persamaan gender bukanlah sebuah usaha untuk mencapai hasil kesamaan gender antara laki-laki dan wanita, tetapi usaha untuk memberikan semangat kepada para wanita Indonesia untuk giat bekerja dan berkarir sesuai dengan kapasitasnya masing-masing, perkara persamaan gender hanyalah sebagai pembanding untuk menimbulkan nuansa kompetisi yang harapannya sehat antara laki-laki dan wanita.



Thanks for reading & sharing MASTER SENI

Previous
« Prev Post

0 blogger-facebook:

Posting Komentar