Monday, April 18, 2011

Curhat: Gundah Rasanya


Kawan,
Beberapa hari ini ada kegundahan yang sangat besar menimpa diri, bukan sesuatu yang jelek, juga bukan sesuatu yang baik. Yang jelas perkara tersebut mampu membuat emosi begejolak, keyakinan molak-malik tak beraturan tapi tetap bersikukuh pada jalannya.
Sedikit kegundahan itu menelusuri seisi diri, terlihat dari ujung kaki hingga ubun-ubun terlebih Nampak sangat kentara pada bagian hati, bagi yang bisa melihatnya dengan mata hati pula.
Ceritanya begini, beberapa hari lalu saya membeli sesuatu barang bersifat duniawian dengan uang sakuku yang diperuntukkan untuk makan dan hidup sehari-hari di perantauan untuk mencari penghidupan dan ilmu yang hasanah, ya…Malang tempatnya.
Semenjak beli barang tersebut, awalnya senang bukan main, mata seakan melihat sejuta bidadari menari-nari setiap saat, telinga mendengar lantunan sholawat yang tak henti-henti untuk Nabi besar Muhammad SAW, hati berbungah ria seakan bunga nan harum semerbak telah tumbuh subur di dalamnya.
Kemilau kesenangan ternyata tidak bertahan lama, nikmat itu akhirnya di cabut oleh yang member, entah karena saya ceroboh atau salah ambil keputusan, ataukah saya telah Serakah terlalu mencintai dunia….berpusing-pusing akal mencari sejatinya kesalahan yang telah saya buat…
Entah apapun itu, yang jelas semuanya telah hilang,
Dan itu bukan berarti sebuah penyesalan atau hal yang perlu saya tangisi apalagi saya wadulkan pada yang memberi, saya sadar bahwa saya tidak lain hanyalah saya yang bukan saya..
Sekarang apapun yang Nampak dihadapan saya bukan lagi bidadari yang menari indah, melainkan seronok sampah berondongan nan baunya harum tak ada duanya di seantero kota Malang ini. Telinga saya bukan lagi mendengar sholawat, tetapi suara itu telah lenyap masuk dengan senyap kedalam telinga dan bersarang di sanubari, hingga meski telinga tak mendengar sanubari mendengarkan telinga tentang sebuah sholawat yang semoga kekal adanya bersama jasad dan ruh ini…
Hati ini juga tak lagi subur dengan bunga harum di dalamnya, hati ini sebaliknya telah mematikan bunga-bunga nan harum dengan injakan kejam badan berperawakan sombong dan riya’ atas hembusan nafas yang beriring melewati hati sebagai filternya. Hati tak seindah dulu, meski demikian jika ini yang terbaik, maka tak apalah,…..Lillah..
Disqus Comments