Breaking News
Loading...
Monday, December 17, 2012

Seni Rupa: Interpretasi karya seni Rupa

4:27 AM
Selamat Membaca Artikel Ini dengan Bijaksana, Bila Copy Paste jangan Lupa cantumkan Sumbernya
ANALISIS KARYA SENI RUPA
NOVEMBER ART”
ANJUNGAN KEN AROK PERPUSTAKAAN KOTA MALANG
indian

PENDAHULUAN
Pameran yang digelar oleh para seniman muda dari mahasiswa Seni dan Desain Univesitas Negeri Malang pada tanggal 24-27 November 2008, dianjungan Ken-Arok Perpustakaan Kota malang merupakan pameran yang perlu mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak seperti pemerhati seni maupun berbagai kalangan budayawan termasuk pula di dalamnya kalangan akademisi yang tak terkecuali para mahasiswa seni rupa Universitas Negeri Malang.
Sehubungan dengan digelarnya pameran tersebut, maka segenap mahasiswa Seni rupa angkatan 2006 yang mendapat mata kuliah tinjauan seni rupa mendapat tugas untuk melakukan apresiasi terhadap karya- karya yang dipamerkan dalam pameran tersebut. Berikut adalah hasil apresiasi yang dilakukan terhadap karya seni rupa yang dipamerkan dalam pameran “November Art”
Sebelum analisis ini dibuat penulis memiliki pemahaman bahwa setiap karya seni rupa yang telah dipamerkan berarti telah memberi rasa kepuasan tersendiri bagi senimanya yang mengandung maksud bahwa karya tersebut adalah sangat baik bagi si seniman. Oleh karena itu, selaku penulis yang tidak membuat karya tersebut merasa sangat tidak etis jika memberi kesimpulan karya tersebut kurang atau baik. Adapun anggapan karya tersebut kurang atau baik itu adalah pandangan dengan sebelah mata saja, apakah pandangan dari visualnya saja? Atau pandangan dari egonya saja?. Penulis hanya dapat berapresiasi sesuai dengan pandangan dan pengalaman yang penulis miliki terkait analisis karya.
Sebagaimana yang tertulis dalam buku filsaafat seni karangan jakob Sumardjo bahwa karya seni jika sudah dipamerkan berarti karya itu bukan semata-mata milik idealisme si seniman tetapi milik semua kalangan yang melihatnya. Oleh karenanya penulis memiliki ruang untuk menganalis karya ini tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum akan karya ini.
Inilah hasil analisis penulis semoga dapat digunakan sebagaimana mestinya.
ANALISIS
    Analisis yang digunakan untuk mengapresiasi ini menggunakan model Feldman yang penekanan penelitiannya menekankan pada penelitian formalistik dengan 4 tahap utama dalam menganalisis Karya yaitu tahap diskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi.
    Diskripsi Karya
    Pada bagian ini akan diutarakan terkait hal-hal yang bersifat umum yang terlihat oleh indra terutama mata,atau kajian dari sisi visual.
    > Seniman : Linggar B.A
    > Judul : Indian
    > Media : Pencil On Paper
    > Tahun : 2008
    Karya ini terdiri dari 1 objek utama dan blank colour sebagai background objek. Objek Utama yang digunakan adalah seorang Indian, atribut yang digunakan berupa bulu, dan beberapa gelang yang melingkar di leher. Objek dicrop sedemikian Rupa hingga fokus pandang terletak pada mimik wajah dengan karakter sebagaimana orang tua.
    Objek Utama dibuat dengan pose menghadap ke arah atas Kanan, tatapan mata objek terbuka tajam, mimik mulut tertutup rapat. Objek Utama diletakkan di sebelah kiri dengan memanfaatkan center focus.
    Arsiran dibuat dengan teknik silang rapat halus yang mengikuti tekstur wajah dan intensitas cahaya yang masuk pada objek( shade) tanpa penggunaan dussel.
    Pencahayaan datang dari arah atas kanan dengan intensitas sedang, terlihat dari pantulan cahaya dari wajah objek yang masih banyak unsur hitamnya.
    Sehubungan dengan pensil sebagai media lukisnya maka warna yang muncul dikarya otomatis merupakan degradasi warna dari hitam ke putih.
    Analisis Formal.
    Pada bagian ini akan diutarakan secara lebih dalam terkait unsur visual yang ditonjolkan dalam” Indian”
    objek Indian dipilih sebagai objek utama oleh Linggar, sebuah objek yang kental akan atribut-atribut dari alam seperti bulu kalkun, tato, anting, “tindikan” dan gelang. Sebagai objek utama figur Indian jika dilukis dengan media pensil akan mengalami kesulitan terberat dalam pembuatan mimik wajah dan membuat karakter bulu yang notabene masing-masing bulu memiliki warna dan bentuk yang berbeda.
    Dalam Karya atribut seperti gelang leher tidak ditonjolkan secara khusus oleh seniman, adapun yang ditonjokan adalah bagian mimik wajah dan karakter bulu yang menggantung di kanan dan kiri wajah. Secara objek gambar wajah dan bulu adalah unsur emphasysnya tapi secara warna, penerapan gelap terang yang harmonis merupakan unsur emphasysnya.
    Wajah oleh seniman dibuat dengan karakter kuat seorang laki-laki Indian berpawakan tua tapi masih menunjukkan sifat ketegasan dan kekekaran. pemanfaatan teknik arsir yang halus semakin memperkuat kesan tersebut.
    Pose objek yang menghadap ke atas dengan tatapan yang tajam seakan memberi kesan ada sesuatu di atas sana yang sengaja oleh seniman dimayakan.
    Dalam penataan komposisi yang dalam hal ini adalah penataan ruangnya, karya ini cukup sederhana yaitu hanya menggunakan satu objek utama dan objek kosong, perbandingan kedua 3:2. penggunaan 75% Paper untuk objek Utama secara ekplisit menunjukkan bahwa karya ini memanfaatkan dengan bijak ruang yang ada tidak boros juga tidak memaksa, sehingga kesan yang muncul ketika melihat karya ini tentu saja langsung tertuju pada objek utama tanpa ada alur penglihatan karya.
    lighting( pencahayaan) dioptimalkan untuk memperjelas karakter wajah saja, untuk karakter atribut seakan dikaburkan tetapi tetap kelihatan bahwa itu adalah atribut seorang Indian. Penonjolan unsur lighting ini semakin menguatkan dalil di atas yang mengatakan bahwa objek utama adalah mimik wajahnya.
    Pensil sebagai media yang digunakan memiliki konsekuensi lama dalam pembuatan dan pemberian kesan klasik pada karya. Kesan klasik pada karya ini sinkron dengan objek dengan dipilih, sehingga kecocokan ini memberikan nuansa yang kuat tentang konsep seniman yang ditorehkan dalam karya ini.

    Interpretasi
    Pada tahap ini akan diutarakan terkait olah intelektual dari karya “Indian” yang berusaha menggali beberapa kemungkinan maksud yang mungkin dari karya ini.
    Indian sebagai objek utama karya merupakan sosok manusia yang kental dengan hidupnya di alam, makan dari hasil berburu, pandai berperang, memiliki ketrampilan membuat kerajinan tangan seperti gelang, dan anting, dan menggunakan bahasa isyarat dalam kehidupan sehari -hari.
    Suku Indian merupakan pemukim pertama di Amerika Utara datang darin Asia sejak 20.000 tahun lalu.(http://id.wikipedia.org/wiki/Indian-3 desember 2008)
pemilihan objek orang Indian mengandung konteks yang nyata akan kehidupan yang serba mandiri, yaitu kehidupan tanpa teknologi muktahir, kehidupan serba tradisional.
Diskripsi karya yang notabene fokus pada mimik wajah dan karakter tokoh indian mengindikasikan bahwa seniman ingin bercerita tentang Indian dalam kehidupan modern sekarang ini. Bahkan Linggar, seniman karya ini seakan tidak hanya ingin bercerita kosong saja tentang indian, Lionggar seakan ingin menghadirkan Nilai-nilai yang diusung oleh suku Indian dalam kehidupan yang serba “mudah” pada zaman ini.
Nilai apakah yang hendak dihadirkan Linggar melalui karya ini? Pertanyaan ini mampu dijawab secara gamblang dan mantap oleh Linggar sendiri, tapi bolehlah penulis mengintervensi secara semiotik nilai-nilai tersebut.Yang jelas Nilai-nilai dalam karya tersebut dapat ditarik dari kehidupan duku Indian itu sendiri. Suku Indian sebagai suku penghuni alam dituntut untuk selalu aktif menjaga dan memanfaatkan alam. Tanpa itu semua suku Indian bakal musnah dilalap alam. Sehingga suku Indian harus mampu berburu dan meramu makanan yang berasal murni dari alam untuk hidup sehari-hari.
Selain itu semua suku Indian harus menjaga wilayah teritorialnya dari berbagai ancaman dari suku lainnya. Hal inilah yang membuat suku Indian ahli dalam membuat senjata perang dan ahli dalam membuat strategi perang, meskipun tidak disejajarkan dengan senjata dan strategi perang pada masa sekarang, tapi dalam lingkup mereka itulah yang terbaik.
Jika hal-hal tersebut dianalogikan dengan kehidupan sekarang ini, lebih-lebih kehidupan mahasiswa. Mahasiswa sebagai insan yang belajar rata-rata rela meninggalkan daerah asalnya untuk menuntut ilmu, tak jarang ada yang dari Jakarta datang ke Malang untuk Kuliah dan begitu sebaliknya. Sayangnya kegiatan berlajar mereka masih dibiayai oleh orang tua, entah 100% atau 80% antarMahasiswa berbeda, tapi yang jelas campur tangan orang tua masih kuat. Oleh karena itu Mahasiswa ditinjau dari segi finansial tergolong dalam strata yang belum mandiri.
    Linggar sebagai seorang Mahasiswa dengan karyanya ini seakan berkata kapan kita akan mandiri sebagaimana layaknya “Orang Indian”dalam menyongsong kehidupan yang panjang di depan. Mahasiswa tidak hanya belajar akan ilmu sebagaimana fak. Yang dipilih tetapi mahasiswa harus belajar pula cara hidup yang lebih bijak dan mandiri. Sehingga ketika lulus nanti tidak hanya membawa gelar sarjana, tetapi juga soft skill untuk menghadapi persaingan hidup. Itulah yang tersirat dalam objek orang indian yang menengadah ke atas kanan di bawah cahaya. Cahaya sebagai simbol harapan dan kehidupan masa depan yang semoga cerah, dan tatapan mata yang tajam menunjukkan nilai keseriusan dalam berusaha menggapai hal tersebut.
    Evaluasi
    meskipun karya ini sederhana yaitu hanya menggunakan satu objek sebagai bagian vital, tetapi dengan pemilihan objek yang tepat( indian) mengkaburkan kesan kesederahaan itu karena kedalaman pesan yang terkandung disana.
    Karya ini layak mendapat apresiasi yang tinggi.

Creative By : h.m. Idem Master Seni

Terimah Kasih telah membaca artikel Seni Rupa: Interpretasi karya seni Rupa . Yang ditulis oleh h.m. Idem .Pada hari Monday, December 17, 2012 . Jika anda ingin sebarluaskan artikel ini, mohon sertakan sumber link asli. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar. Trimakasih


:: Get this widget ! ::

0 comments :

Post a Comment

 
Toggle Footer